Berobat Kesana Kemari
Tahun 1987, atas kesepakatan bersama, kami mulai memeriksakan diri ke dokter. Sekitar lima bulan kami sempat berobat rutin ke sebuah rumah sakit anak terkenal di Jakarta. Tetapi namanya manusia, walaupun profesi kami sebagai dokter, tetap saja kami tidak terlepas dari pilihan pribadi masing-masing. Kalaupun kemudian kami memilih untuk berobat kepada Dr. dr.Teuku Zulkifli Jacoeb, Spesialis Obstetri-Ginekologi, kami pikir hal itu merupakan pilihan yang manusiawi sekali. Kami sudah lama mendengar tentang keberhasilannya menangani pasien pasangan suami-isteri yang sulit memiliki keturunan. Kebetulan dr. Poppy, istri dari Dr. dr. Jacoeb adalah rekan istri saya. Jadi tidak heran kalau kemudian kami memantapkan hati untuk berobat kepadanya. Dari pihakku sendiri, sebagai seorang pria, tidak ada perasaan segan untuk memeriksakan diri. Kenapa harus malu? Menurut pendapatku, kejantanan seorang pria tidak hanya dilihat dari segi yang satu itu. Ya, masih banyak memang orang yang mengidentikkan sperma dengan faktor kejantanan.Tapi kupikir masalah sebenarnya lebih mengacu pada ego kaum pria yang lebih kuat. Mereka khawatir jika ternyata kelemahan ada pada dirinya, sehingga tak jarang banyak sekali kaum wanita yang menderita karena masalah Ini. Merekalah yang seringkali disalahkan, bahkan yang lebih fatal lagi, mereka diceraikan. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi dalam rumah tangga kami. Itu sebabnya atas kesadaran dan kesepakatan bersama- tentu saja melalui komunikasi yang sating terbuka di antara kami berdua - aku dan istriku memutuskan untuk berobat secara rutin. Itu sebabnya secara teratur kami lalu mengunjungi Dr. dr.Jacoeb untuk konsultasi dan menjalani berbagai pemeriksaan medis.
Terus terang kami akui selama pengobatan berlangsung kami merasa stres. Satu sisi kami berdua dikatakan sehat, tapi di sisi lain apa yang kami tunggu-tunggu belum juga membuahkan hasil. Kalaulah ada kelainan, faktornya hanya karena infertilitas primer. Walaupun Dr. dr. Jacoeb selalu membesarkan hati kami, tapi perasaan was-was dan harap-harap cemas tidak dapat kami hindari. Rosita mulai merasa 'iri' pada saudara maupun teman-temannya yang sudah menimang bayi. 'Lihat, Pa, si A, baru menikah tapi sudah punya anak," katanya. Atau di hari lain ia kembali 'melapor", "Temanku si Anu, sama susahnya punya anak, tapi sekarang mereka berhasil menimang bayi juga!'
Urusan memelihara nyala 'api harapan' di dada kami memang tidak mudah. Banyak hal-hal yang membuat kami merasa jenuh. Aku sendiri bukannya tidak ikut merasakan hal itu. Tapi di depan dia, aku tetap berusaha kelihatan tegar. Aku selalu membesarkan hatinya. Bagaimanapun aku tidak memaksa dia karena hal ini menyangkut masalah psikologis. Aku tidak ingin membuat dia bertambah stres. Namun setelah empat tahun secara rutin kami berobat dan belum juga memberikan hasil yang jelas, maka akhirnya aku pun terkena 'penyakit' bosan itu. Bayangkan saja, selama bertahun-tahun secara rutin kami harus minum obat, dan terutama Rosita harus menjalani pemeriksaan hormonal pada tanggal-tanggal tertentu berdasarkan siklus haidnya. Mulanya kami rajin dan penuh semangat. Tapl lama-kelamaan ...? Pertengahan tahun 1992, akhirnya kami absen memeriksakan diri kepada Dr. dr. Jacoeb.
"Saya capek," kata istriku. Dan kali itu aku sependapat dengan dia. Maka kami sepakat untuk istirahat dulu. Tapi bukan berarti kami berhenti berusaha, bahkan secara non-medis.Kami mencoba cara-cara pengobatan tradisional. Istriku rajin meminum Jamu maupun obat-obat dari sinshe. Bahkan, kami Juga meminta bantuan dari seorang ahli paranormal, yang memberikan dukungan moral yang besar. Walaupun begitu, kami Juga tetap berdoa sesuai dengan agama kami, mohon kekuatan dari Bapa yang ada disurga.
Segala cara telah kami lakuan, tapi belum ada tanda sedikit pun akan membuahkan hasil. Setelah satu setengah tahun lebih menunda pengobatan dengan Dr. dr. Jacoeb, kami memutuskan untuk kembali berobat kepadanya.Tepatnya, sejak September 1992 kami kembali menjalani pengobatan biasa selama dua bulan. Selain itu, kami juga mulai memikirkan untuk mengadopsi anak. Tapi sebelum melaksanakannya Istriku mengatakan, "Saya ingin mencoba cara yang paling canggih dulu, deh!. Siapa tahu melalui program bayi tabung, kita berhasil mendapatkan anak yang kita idamkan? Kalau tetap tidak berhasil, ya, sudahlah... kita mengadopsi bayi saja."
"Kamu mau mencobanya sampai berapa kal?i' tanyaku. Ya, kupikir kami harus menegaskan batas waktu akhir sebelum mencobanya. Jangan sampal kami terkatung-katung nanti, terus mengharapkan hal yang tak pasti, selain juga pertimbangan biaya. Mengikuti program bayi tabung tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Jadi, sebelumnya kutegaskan juga kepada isteriku bahwa jangan terlalu mengharapkan program ini akan berhasil. Aku tidak mau memaksakan diri lagi karena takut stres lagi. Kalau tidak berhasil, tentu akan repot Jadinya. Tapl istriku tetap bersikukuh ingin mencobanya. "Sekali saja,' katanya. 'Kalau Jadi syukur, kalau tidak berhasil ya, tidak apa-apa. Yang penting saya tidak penasaran karena sudah mencobanya.' Dan, aku setuju saja. Ya, siapa tahu kami berhasil?

Kepala berdenyut alias pusing, sudah menjadi kebiasaan sehari-hari banyak orang. Bahkan mereka pun menganggapnya enteng saja. Cukup beli obat di warung maka selesailah. Padahal tak sesederhana itu lho.... Sakit kepala banyak jenisnya. Ada yang mudah penanganannya dan ada juga yang perlu diwaspadai. Penasaran, apa yang ada di balik sakit kepala...?
Persiapan “Lahan” sehat untuk janin


BILA IBU HAMIL MIMPI BURUK