Bayi-bayi Kami Yang Lucu
Pukul 05.35 pagi istriku dibawa masuk ke ruang operasi. Saat itu aku sedikit agak tenang. Aku tak tahu apakah ini karena pengaruh obat penenang yang kuminum. Walaupun begitu, tetap saja aku tidak sanggup untuk masuk ke ruang operasi, menyaksikan perjuangan istriku melahirkan bayi-kami. Jadi, aku hanya menanti di luar saja dengan sepenuh doa di hati. Semoga saja team dokter yang bertugas, antara lain dilakukan oleh Dr. dr. Jacoeb .dan dr. Soegiharto sendiri, berhasil dengan baik.
Pukul 06.15 bayi-bayi itu lahir. Oh, Tuhan, betapa bahagia aku saat itu sulit kulukiskan. setelah delapan tahun lamanya kami menanti si permata hati, ternyata akhirnya terkabul. Doa dan usaha kami tidaklah sia-sia. Aku merasa bahagia sekali. Aku telah menjadi seorang ayah dan istriku telah menjadi seorang ibu yang sebenarnya. Aku gembira keadaan istri dan bayi kami baik-baik saja. Dua bayi perempuan kami, meski agak kecil tapi kelihatan cantik-cantik. Sementara seorang bayi laki-laki nampak sehat dan cakep. Dua bayi perempuan itu selanjutnya kami beri nama, Theresia Tamia Yapri (beratnya 2.750 gram) dan Laurensia Anastasia Yapri (1.350 gram), dan yang laki-laki kami beri nama Albertus Edwin Yapri (2.400 gram).
Si bungsu, Laurensia, karena beratnya agak kurang, oleh pihak RSB (Rumah Sakit Bersalin) Budhi Jaya, segera di bawa ke RSAB (Rumah Sakit Anak Bersalin) Harapan Kita untuk diberi perawatan lebih lanjut. Selama tiga hari dia dirawat di sana, sampai 17 Oktober pukul 23.40 WIB, Tuhan 'memanggil' Laurensta. Sebenarnya hampir-hampir aku tidak percaya ketika mendengar berita itu. Ketika kudengar si bungsu dalam keadaan kritis, aku cepat-cepat lari ke rumah-sakit. Namun rupanya Tuhan menentukan lain. Sudah kehendak-Nya, Laurensia pulang ke rumah Bapa di surga. Dia di makamkan 18 Oktober di pemakaman Menteng Pulo.
Aku sedih sekali. Entah bagaimana reaksi Rosita mendengar kabar itu. Sekalipun dia tidak sempat mendekap si bungsu, tapi aku yakin tentu ia merasa sangat sedih. Ketika selesai melahirkan, dalam keadaan separuh sadar dia hanya sempat mencium mereka satu per satu. Hanya Itu. Sungguh, aku tidak tega untuk memberitahukan dia. Apalagi tensinya masih agak tinggi. Itu sebabnya aku sengaja melakukan 'gerakan tutup mulut’. Seluruh keluarga kuberi tahu agar tidak menceritakan hal yang sebenarnya. Biarlah untuk sementara dia mengira Laurensia masih dirawat di RSAB (Rumah Sakit Anak Bersalin) Harapan Kita.
Tanggal 22 Oktober, istri dan kedua bayi kami baru pulang kembali ke rumah kami di Tangerang. Dalam perjalanan pulang dia masih saja tidak mengira bahwa sebenarnya anak kami hanya tinggal dua orang. Setelah malam hari, kedua bayi kami sudah tidur dan keadaan istriku tampak tenang, dengan berat hati akhirnya kusampaikan juga keadaan yang sebenarnya tentang si bungsu kami, Laurensia yang sudah tiada.
Dia benar-benar merasa sedih dan terus-menerus menangis malam itu. Tensinya naik lag) dan beberapa hari itu masih saja demam. Kondisi fisiknya memang belum kembali pulih seperti sediakala. Kehilangan si bungsu memang membuat kami merasa sangat kehilangan. Tapi bagaimanapun, kehadiran Tamia dan Edwin, telah memberikan secercah sinar dalam kehidupan rumah tangga kami. Setelah delapan tahun menanti permata hati, akhirnya kami mendengar suara tangisan bayi di rumah kami.
(Seperti yang dikisahkan dr. Julius Chandra Yapri dan dr. Rosita kepada Effi S. Hidayat ,dikutip dari Femina tahun 1993).

Kepala berdenyut alias pusing, sudah menjadi kebiasaan sehari-hari banyak orang. Bahkan mereka pun menganggapnya enteng saja. Cukup beli obat di warung maka selesailah. Padahal tak sesederhana itu lho.... Sakit kepala banyak jenisnya. Ada yang mudah penanganannya dan ada juga yang perlu diwaspadai. Penasaran, apa yang ada di balik sakit kepala...?
Gigi sehat adalah gigi yang bersih tanpa lubang. Maka rawatlah gigi secara baik dan teratur, kalau ada gigi yang berlubang, segera periksa ke dokter gigi.